Selamat datang di blog kami! Selamat menikmati aktivitas yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Bila ada pertanyaan seputar aktivitas kami, silakan kirim ke alamat email kami: sekretkasihbangsa@gmail.com. Terima kasih...

Senin, 20 Februari 2017

Jurnalistik, bukan soal ilmu pengetahuan



Dalam rangka memperingati 400 tahun Kongregasi Misi (CM), beberapa imam beserta tim yang sudah dibentuk merancang sebuah rencana penulisan buku. Buku yang akan ditulis berisi kenangan akan para misionaris awali CM yang berkarya di Indonesia. Untuk itu berbagai persiapan dilakukan seperti mendata para narasumber dan membuat agenda kerja. Salah satu dari agenda yang telah direncanakan yakni pada tanggal 18 - 20 Januari 2017,  beberapa romo beserta tim, menggelar workshop yang bertujuan agar para tim penulis buku semakin kreatif dalam proses penulisan buku. Workshop yang berlangsung di Provinsialat CM ini dibawakan oleh seorang jurnalis dan penulis buku A. Bobby Pr. Peserta terdiri dari 7 pastor CM, 2 Frater CM dan 7 orang lainnya awam. Para peserta tampak antusias. Bobby pun tampak energik dalam memberikan materi. Bahasa jurnalistik, berita dan feature menjadi meteri utama dalam workshop.

MUJIJAT PENGGANDAAN ROTI (pelajaran berbagi)



Mujijat penggadaan roti dalam Injil Matius dan Markus terjadi dua kali. Pertama untuk 5000 orang yang kedua untuk 4000 orang. Lukas dan Yohanes hanya menulis sekali untuk 5000 orang lelaki belum termasuk perempuan dan anak-anak. Jumlah roti yang digandakan pun berbeda. Matius dan Markus menulis para murid mempunyai 5 roti dan 2 ikan untuk memberi makan 5000 orang. Sedang pada saat memberi makan 4000 orang ada murid yang mempunyai 7 roti dan beberapa ikan. Dalam Lukas murid-murid mempunyai tidak lebih 5 roti dan 2 ikan. Dalam Yohanes seorang anak kecil yang mempunyai 5 roti dan 2 ikan.

Selasa, 14 Februari 2017

MENCARI DUKA SEORANG IMAM (Sharing Pengalaman Kecil)



Meski berhimpitan jadwal, namun aku masih menyanggupi untuk misa menggantikan Rm. Puji di Paroki Marinus Yohanes Kenjeran pada hari Minggu yang lalu. Setelah misa saya akan segera meluncur pulang ke Paroki Kristus Raja untuk memimpin perkawinan. Beberapa anak yang meminta tanda tangan di buku tugasnya aku layani dengan cepat. Tetapi ada seorang anak lelaki remaja SMP yang tiba-tiba meminta wawancara. Saya katakan untuk mencari romo lain, karena saya buru-buru. Tetapi anak ini bersikeras harus wawancara. Ibunya pun turut meyakinkan agar saya berbelas kasihan pada anaknya dan memberi waktu. Saya katakan untuk lakukan wawancara di paroki Kristus Raja setelah upacara perkawinan. Saya tegaskan bahwa saya tak ada waktu lagi.

Jumat, 10 Februari 2017

Pertama dan Baru.



Tuban, 17-19 Desember 2016

Beberapa waktu lalu, Solidaritas Relawan Kemanusiaan (SRK) mengundang kami, siswa-siswi SMA St Louis 1 dan 2 serta SMK St Louis untuk bergabung di organisasi ini. Untuk pertama kali, kami bersebelas terjun langsung bersama rombongan, membantu dalam proses distribusi paket berisi sembako untuk para korban bencana banjir di Rengel, Tuban. Kami berangkat dari Kinibalu 41 menggunakan truk TNI membawa cukup banyak karung beras dan sembako lainnya. Saya pribadi cukup deg-degan, karena ini hal baru untuk saya.

Selasa, 07 Februari 2017

KITA BERJALAN MENUJU KEMATIAN



Jika kelahiran adalah awal dari kehidupan kita maka kematian adalah akhir kehidupan kita. Seperti matahari yang terbit dari timur dan tenggelam di barat maka kita pun sedang mengarungi angkasa untuk tenggelam di barat. Kematian adalah sesuatu yang pasti dalam kehidupan kita, tetapi sering berusaha menolak atau enggan memikirkannya. Kita takut untuk memikirkan kematian sehingga kita melupakan. Kita terkejut saat kematian itu sudah diambang mata.

Kamis, 02 Februari 2017

KAMI TAK PERNAH DISAPA



Raut wajahnya tampak memucat. Tidak kelihatan kegembiraan terpancar, sepertinya dia sedang menahan rasa sakit di tubuhnya. Beberapa kali dia berusaha untuk mengubah posisi duduknya. Kadang kedua lututnya diangkat agar dapat meletakkan dagu di atasnya. Sesekali dia memandang ruangan rumahnya. Tampak tumpukan beberapa potong pakaian yang sobek dan mulai kumal di dua sudut rumah. Di tengahnya dipasang tiga kelambu yang digantungkan saja dengan tali. Tidak ada kasur di dalamnya, hanya potongan kardus, kain untuk membungkus badan pada saat tidur, dan sebuah bantal yang warnanya mulai tidak jelas. Agak ke tengah ada tungku api, dengan tumpukan sagu yang diletakkan di atas pelepah pohon sagu, sebuah tandan pisang dan beberapa tempat masak, piring, sendok dan gelas. Istrinya sedang duduk di antara tiga kelambu. Wajahnya terus membungkuk, sorot matanya memandang bayi kecil yang sedang dipangkunya. Wajahnya terus memandang bayi yang ada di gendongannya. Beberapa kali ia mengangkat wajahnya, namun sorot matanya selalu memandang keluar. Tampak kosong. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu? Sedangkan tiga orang anaknya yang lain duduk berdekatan denganku. Itulah keluarga Yakob, salah satu umat yang tinggal di paroki, tempat saya bertugas.

Selasa, 10 Januari 2017

125 Tahun Rerum Novarum Pada Tahun Belas Kasih



Pada tahun 2016 ini genap 125 tahun dipromulgasikannya Ensiklik Rerum Novarum oleh Paus Leo XIII pada tahun 1891.  Rerum Novarum menjadi semacam monumen lahirnya cara menggereja yang baru, yang ditandai dengan keterlibatan kenabian Gereja pada situasi sosial, politik, dan ekonomi jamannya. Peringatan-peringatan Rerum Novarum dimanfaatkan oleh para paus berikutnya untuk merefleksi ulang bagaimana Gereja hadir di tengah kenyataan dunia. Rangkaian dokumen mulai Rerum Novarum dan yang mengikutinya kemudian akrab kita sebut sebagai  Ajaran Sosial Gereja (ASG).