Selamat datang di blog kami! Selamat menikmati aktivitas yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Bila ada pertanyaan seputar aktivitas kami, silakan kirim ke alamat email kami: sekretkasihbangsa@gmail.com. Terima kasih...

Rabu, 12 April 2017

Selamat Paskah 2017


CORETAN DI BANDARA (apakah aku sudah modern)

Tadi saat di bandara aku makan di gerai KFC, ini bukan pamer atau bahkan promosi warung ayam goreng. Aku memilih makan disini, sebab rasa dan harga sama dengan di tempat yang lain. Di bandara makanan dan minuman harganya dapat berlipat ganda. Kopi satu sachet dalam gelas kecil harganya Rp 20.000, padahal kalau di warung pinggir jalan hanya Rp 5.000 aja. Rasa makanan pun sering kurasa aneh. Maka lebih baik makan di tempat yang sudah pasti rasa dan harganya sehingga tidak membuatku kecewa dengan harga dan rasa yang tidak sesuai bayanganku.

Senin, 03 April 2017

PENJAGA REL KERETA API

Sebenarnya kau punya pilihan hidup yang lebih baik.
Kau juga pasti punya kesempatan hidup yang lebih layak.
Tapi mengapa kau memilih hal yang sulit?
Duduk diam mendengar celaan sambil menanti laju kereta api.

Saat yang kau tunggu datang, kau tutup semua jalur penyebrangan.
Saat yang kau tunggu datang, kau larang setiap orang yang menghalanginya.
Kau sambut kedatangannya dengan tubuh bungkukmu yang selalu kau paksa tegap.
Kau sambut kedatangannya dengan getar langkah kaki mengayun perlahan namun pasti.
Dengan senyum lebar di wajah keriput, kedatangannya bahagia kau sambut.

Senin, 27 Maret 2017

Penjual gorengan mengais rejeki

Pagi buta tatkala orang-orang masih lelap dengan tidurnya pak po sudah bercucur peluh keringat di dahinya. Dia bukan sedang olahraga pagi. Pria paruh baya ini tengah mengoreng aneka molen, ute-ute, pisang dan ketela goreng.

Pak Po bukanlah nama sebenarnya. Nama asli dia yakni Supri tapi teman-temannya ketika di pabrik hingga sekarang terbiasa memanggil dengan panggilan pak Po.

Pemutusan hubungan kerja (phk) adalah hal menyakitkan. Sudah 15 tahun bekerja di pabrik udang Tropodo tiba-tiba diberhentikan. Tanpa uang pesangon. Dia sedih. Namun, tak lama, dia segera bergegas mencari pekerjaan lagi agar dapur tetap mengepul. Dia mulai mencari informasi pekerjaan. Dari informasi temannya dia diterima kerja di pabrik kayu tapi tidak lama hanya 3 bulan. Setelah itu dia bekerja di loundry tetapi hanya satu bulan.

Selasa, 21 Maret 2017

KEMBANG DI KUBURAN



Dulu aku pernah pergi ke kuburan dengan dua adik yaitu Kokok dan Ari. Kuburan simbah terletak di sebuah kuburan tua yang sudah penuh. Tetapi karena masih saja ada orang yang mengubur di tempat ini maka kuburan menjadi penuh sesak. Patok atau maesan bertebaran tidak tertata rapi. Sepertinya orang berusaha memanfaatkan setiap jengkal tanah untuk kuburan, maka ada kuburan yang menghadap barat laut atau timur laut. Tidak semua menghadap utara seperti kebiasaan orang Jawa.

Sampai di kuburan embah kami mulai membersihkan rumput. Tiba-tiba kulihat Kokok meloncat lalu lari tunggang langgan. Sesaat kemudian Ari pun lari mengikuti Kokok. Melihat kedua adikku lari maka aku pun lari mengejar mereka. Aku tidak peduli kakiku terantuk patok atau semen yang membatasi kuburan. Setelah agak jauh dari kuburan embah Kokok berhenti dengan nafas terengah-engah.

Senin, 13 Maret 2017

Cinta “otodidak” seorang sopir

Langit sore tampak begitu cepat berlabuh. Lampu jalan menyala menyongsong datangnya malam. Para pekerja bergegas untuk kembali kerumahnya. Namun hal ini tidak bisa dirasakan oleh Judi (50), seorang sopir di salah satu perusahaan. Judi ini terlihat payah, duduk di parkiran gereja, mengenakan baju serba hitam dengan sebatang rokok ditangannya.

Sebagai seorang sopir, setiap hari Judi mendahului matahari terbit, berangkat kerumah majikannya. Menyiapkan mobil, menghantar majikan berangkat kantor, hingga menghantar pulang majikan sore hari bahkan bisa sampai larut malam. Setelah itu baru ia menyapa keluarganya dengan senyuman.

Rabu, 08 Maret 2017

PEKIK SUNYI SANG TUKANG BECAK



Hembus angin di gelap pekat malam Surabaya tetap tak menghapus panasnya udara kota itu. Syamsudin pun terpaksa melepas bajunya sambil duduk santai di becaknya sendiri. Rasanya tak ada yang istimewa di malam itu. Suasana sepi. Sesepi rezeki yang bisa dikais Syamsudin hari ini.

Guratan garis kulit mulai terlihat di dahi dan pipi. Kulitnya legam. Di wajah, tubuh dan tangan. Seakan-akan terik matahari kota sudah menjadi sahabat karibnya.