Selamat datang di blog kami! Selamat menikmati aktivitas yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Bila ada pertanyaan seputar aktivitas kami, silakan kirim ke alamat email kami: sekretkasihbangsa@gmail.com. Terima kasih...

Senin, 22 Agustus 2016

Mengelabui lapar dan haus...



Di setiap tahun dalam bulan Ramadhan, Sanggar Merah Merdeka secara rutin mengadakan buka bersama dengan anak-anak dampingan dan para relawan. Acara bukber di tahun ini, seperti biasa, diadakan di Pos RT 4 kampung Tales pada hari Minggu sore, 19 Juni 2016, hingga selesai sholat tarawih. Banyak orang terlibat. Di samping anak-anak dan para relawan, Romo Wawan juga mengundang kawan-kawan dari Kampoeng Sinaoe Sidoarjo untuk membantu. Anehnya, sebelum acara dimulai, sebelum jam 4 sore sudah terlihat sebagian anak-anak ngguya-ngguyu kegirangan datang lebih awal. Senang, ini membuktikan antusiasme anak-anak pada setiap acara bukber.

Kamis, 28 Juli 2016

SOSIALISME DI KAMPUNG



Di kecamatan Menukung masih ada sekitar 3 rumah betang, rumah asli masyarakat Dayak. Aku mengatakan “sekitar” sebab lupa tepatnya dan mungkin masih ada yang belum keketahui selain ketiga rumah betang itu. Pada mulanya masyarakat Dayak hidup di rumah betang, dimana satu rumah panjang dihuni beberapa keluarga. Tergantung pintu, konon dulu di kecamatan sini ada rumah betang yang panjang, sekitar 60 an meter yang dihuni sekitar 40 keluarga. Rumah betang sebuah rumah memanjang dengan deretan pintu, seperti ruko jaman ini, setiap pintu dihuni oleh satu atau lebih keluarga. Pada umumnya satu rumah betang terdiri dari satu keluarga besar sehingga semua penghuni masih termasuk keluarga. Tapi saat ini sudah semakin jarang rumah betang, sebab orang lebih suka mendirikan rumah sendiri. Atau rumah betang terbakar sehingga sulit untuk membangunnya kembali.

Kamis, 21 Juli 2016

Nama saya Maria

Pertama kali kulihat wanita itu melewati pintu yang dibukakan oleh pelayan restoran, berjalan bersamaan dengan seorang wanita lain. Aku hanya melihatnya sekilas lalu karena kupikir ia akan berjalan terus melewati mejaku. Kembali kuarahkan pandanganku kepada tumpukan buku yang ada dihadapanku.

Beberapa detik berlalu, kembali kuarahkan pandanganku kearah pintu yang ada sisi kiriku. Kulihat wanita itu berdiri didepan pintu, tepat di tepian koridor. Ah, mungkin dia sedang menunggu seorang teman, demikian pikirku.

Kamis, 14 Juli 2016

Mau ditawar lagi???



Ketika menanti jemputan yang tak kunjung datang, mata tiba-tiba terfokus kearah becak dengan beraneka topi yang berhenti disamping RSAL atau didepan Royal Plaza. Secara keseluruhan tidak ada yang istimewa sebenarnya tapi tulisan “TOPI 5.000” membuatku penasaran. Dari jauh aku amati dan sesekali aku potret.

Sepasang perempuan dan laki-laki paruh baya memarkir motornya dan mulai memilih topi yang mereka inginkan. Dalam hati berfikir yakin kah bapak itu menjual topinya seharga Rp 5.000? ach mungkin hanya tulisannya saja 5.000 tapi kenyataannya pasti lebih dari itu.

Senin, 27 Juni 2016

ANTARA KUCING DAN TIKUS DENGAN KORUPTOR DAN ANAK JALANAN

Tadi siang ada seorang umat memberi dua ekor ikan laut. Sore ini kumasak sebab kuatir kalau disimpan sampai besok bisa busuk. Disini jarang sekali orang jualan ikan. Pada umumnya ikan dibawa dari Nanga Pinoh, ibu kota kabupaten. Ikan di Pinoh pun berasal dari Pontianak, sehingga ikan sampai sini entah sudah berapa hari diawetkan dalam freezer. Sungai memang banyak tetapi akibat kesarakahan manusia dan kurangnya orang mampu menjaga kelestarian sungai yang mencari ikan dengan cara meracun sungai atau menyetrum, akibatnya sulit ditemukan ikan. Orang paling cerita dulu ada banyak ikan besar-besar. Padahal kita tidak makan dulu, tapi makan ikan. Maka saat ini paling ada ikan seluang, ikan kecil-kecil semacam wader.

Senin, 20 Juni 2016

BUMI SEBAGAI RUMAH BERSAMA

Dengan semakin maraknya persoalan sosial yang diakibatkan oleh aktivitas manusia yang dengan sengaja merusak alam demi memuaskan nafsu konsumsi yang tak terbatas, membuat usaha-usaha untuk membendung arus kerusakan alam tak bisa ditahan-tahan lagi. Disadari bahwa meski sampai hari ini usaha-usaha itu telah dilakukan banyak pihak, terutama kelompok-kelompok pemerhati lingkungan, namun nanpaknya tidak cukup. Begitu cepatnya laju kerusakan alam membuat usaha pencegahan seperti aforestasi dan rehabilitasi lahan kritis oleh masyarakat maupun tanggung jawab reforestasi oleh korporasi ibarat balapan antara sepeda pancal dan pesawat jet.

Jumat, 17 Juni 2016

GARA – GARA WIFI

Sore itu selesai aku mengantar buletin bulanan tempatku bekerja, sejenak aku singgah di sebuah warung kopi kecil di Jl. Imam Bonjol Surabaya untuk sekedar melepas lelah. Sambil menikmati segelas es teh dan beberapa batang rokok aku berusaha membunuh lelah di tubuh ini dengan menikmati acara di televisi yang memang disediakan pemilik warung. Sesekali aku coba berinteraksi dengan pengunjung lain, meskipun hanya menanyakan hal yang tidak begitu penting seperti pekerjaan dan tempat tinggal. Meskipun tak saling mengenal, bagi saya setidaknya tidak ada keheningan diantara aku dan pengunjung lain di sekitarku. Warung ini ukuranya bisa dibilang tidak terlalu besar dan juga tidak ada fasilitas seperti Wifi gratis di sini, tetapi setidaknya cukup bagi para pengunjung untuk duduk santai sambil memandang lalu lalang kendaraan yang melintas di seberang warung ataupun sekedar berbincang–bincang dengan orang di samping kanan kirinya. Ada anak–anak muda yang berbincang mengenai olahraga sepak bola, ada bapak–bapak yang beradu opini mengenai acara yang tayang di televisi, dan masih banyak lagi obrolan–obrolan yang dibahas oleh orang–orang yang berkunjung di warung kopi tersebut.